Pura yang berkaitan erat dengan kesuburan, Dewi Sri, dan kehidupan subak masyarakat setempat.
Pura Lumbung\nPura Puseh Ganggangan Canggi berada di dalam satu kompleks wilayah dengan Pura Arca dan Pura Lumbung. Ketiganya secara keseluruhan disebut dengan Pura Puseh Desa Ganggangan Canggi. Masing-masing kompleks tersebut dipisahkan dengan tembok-tembok panyengker. Tinggalan arkeologis yang tersebar terdapat di dua tempat yaitu di Pura Puseh Ganggangan Canggi dan Pura Lumbung. Pada areal Pura Lumbung terdapat arca-arca yang menurut masyarakat merupakan stana dewi Sri yakni Dewi Kesuburan. Pura ini diempon oleh enam subak. Prosesi upacara sebagai bentuk terimakasih Krama Subak biasanya dilaksanakan setelah panen berlangsung. Jika terdapat serangan hama terhadap tanaman, maka Krama Subak juga akan melakukan ritual di Pura Lumbung tersebut.\nKarena situs yang terdapat di Desa Batuan Kaler masih dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai tempat pemujaan, maka pada waktu-waktu tertentu masyarakat akan melangsungkan ritual sebagaimana umumnya yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali. Adapun pemujaan (piodalan/ wali) yang dilakukan di Pura Puseh Desa Ganggangan Canggi dilangsungkan pada hari Buda Cemeng Langkir. Sedangkan setiap bulannya, juga dilangsungkan upacara bila bertepatan dengan purnama, tilem, kajeng kliwon dan paneman wali. Seandainya piodalan jatuh bertepatan dengan tilem atau purnama, maka upacara akan dilaksanakan dengan tingkatan yang lebih besar. Pada saat tingkatan upacara yang lebih besar inilah, ratu manca akan turun (tedun). Dengan kata lain, maka seluruh Pura yang memiliki arca atau pratima akan distanakan di Pura Puseh Desa. \n\tInformasi Tambahan:\n\tDi area Pura Puseh Desa Ganggangan Canggi, terdapat beberapa bekas pelinggih yang sudah tidak digunakan lagi. Pelinggih adalah tempat atau bangunan yang digunakan untuk meletakkan arca atau pratima yang dipuja dalam upacara agama Hindu. Pelinggih ini dulunya mungkin digunakan dalam upacara atau pemujaan tertentu, namun saat ini tidak lagi difungsikan karena berbagai alasan, seperti perubahan dalam tata cara upacara atau kondisi fisik pelinggih yang sudah rusak.\n\tSelain itu, dalam setiap upacara keagamaan yang dilaksanakan di pura ini, ada beberapa jenis tanaman yang digunakan sebagai persembahan. Tanaman-tanaman tersebut antara lain pisang, kelapa, dan pepaya. Tanaman ini memiliki makna simbolis dalam upacara, biasanya sebagai bentuk penghormatan kepada Dewata atau sebagai sarana untuk memohon berkah dan kesuburan. Pisang, kelapa, dan pepaya dipilih karena dianggap sebagai buah yang memiliki makna spiritual dan simbolik yang kuat dalam tradisi Bali, terkait dengan kesuburan tanah dan kesejahteraan umat manusia. Tanaman ini akan dipersembahkan di pelinggih atau altar saat upacara berlangsung, sebagai bagian dari ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat setempat, terutama oleh Krama Subak..jpeg)
